NAMA : HARUN
RIPALDI KARYA
NPM : 23213955
KELAS : 4EB24
Tugas 3.2 Triple
Bottom Line (Tiga Dasar Pokok)
Istilah triple bottom
line pertama kali diperkenalkan oleh John Elkington (1998) dalam bukunya yang
berjudul Cannibals With Forks: The Triple Bottom Line in 21st Century Business.
Elkington menganjurkan agar dunia usaha perlu mengukur sukses (atau kinerja)
tak hanya dengan kinerja keuangan (berapa besar deviden atau bottom line yang
dihasilkan), namun juga dengan pengaruh terhadap perekonomian secara luas,
lingkungan dan masyarakat di mana mereka beroperasi. Disebut triple sebab
konsep ini memasukkan tiga ukuran kinerja sekaligus:Economic, Environmental,
Social (EES) atau istilah umumnya 3P: “Profit-Planet-People”.
Tanggung jawab sosial
perusahaan merupakan kepedulian perusahaan yang didasari tiga prinsip yang
dikenal dengan triple bottom lines oleh Eklington (Amalia, 2007: 11):
1. Profit
Profit merupakan unsur
terpenting dan menjadi tujuan utama dari setiap kegiatan usaha. Perusahaan
tetap harus berorientasi untuk mencari keuntungan ekonomi yang memungkinkan
untuk terus beroperasi dan berkembang. Aktivitas yang dapat ditempuh untuk
mendongkrak profit antara lain dengan meningkatkan produktivitas dan melakukan efisiensi
biaya, sehingga perusahaan mempunyai keunggulan kompetitif yang dapat
memberikan nilai tambah semaksimal mungkin.
2. People
Perusahaan harus
memiliki kepedulian terhadap kesejahteraan manusia. Menyadari bahwa masyarakat
sekitar perusahaan merupakan salah satu stakeholder penting bagi perusahaan,
karena dukungan masyarakat sekitar sangat diperlukan bagi keberadaan,
kelangsungan hidup, dan perkembangan perusahaan. Maka sebagai bagian yang tak
terpisahkan dengan masyarakat lingkungan, perusahaan perlu berkomitmen untuk
berupaya memberikan manfaat sebesar-besarnya kepada masyarakat. Misalnya,
pemberian beasiswa bagi pelajar sekitar perusahaan, pendirian sarana pendidikan
dan kesehatan, serta penguatan kapasitas ekonomi lokal.
3. Planet
Hubungan perusahaan
dengan lingkungan adalah hubungan sebab akibat, dimana jika perusahaan merawat
lingkungan maka lingkungan akan memberikan manfaat kepada perusahaan. Sudah
kewajiban perusahaan untuk peduli terhadap lingkungan hidup dan berkelanjutan
keragaman hayati. Misalnya, penghijauan lingkungan hidup, perbaikan pemukiman,
serta pengembangan pariwisata (ekoturisme).
Dalam gagasan
tersebut, perusahaan tidak lagi diharapkan pada tanggung jawab yang berpijak
pada single bottom line, yaitu aspek ekonomi yang direfleksikan dalam kondisi
financial-nya saja, namun juga harus memperhatikan aspek sosial dan
lingkungannya. Perusahaan tidak lagi dihadapkan pada tanggung jawab yang
berpijak hanya pada single bottle lines yaitu, nilai perusahaan (corporate
value) yang direfleksikan dalam kondisi keuangannya (financial) saja, tetapi
tanggung jawab perusahaan harus berpijak pada triple bottom lines, yaitu
berupa: finansial, sosial dan lingkungan. Kondisi keuangan saja tidak cukup
menjamin nilai perusahaan tumbuh dan berkembang secara berkelanjutan
(sustainable development). Keberlanjutan perusahaan akan terjamin apabila
korporasi juga turut memperhatikan demensi sosial dan lingkungan hidup. Konsep
CSR tampaknya dapat memberikan suatu perubahan yang baru dalam dunia bisnis,
namun tidak sedikit pendapat yang meragukannya. Banyak orang berpendapat bahwa
sebuah perusahaan yang kini telah meninggalkan konsep one line reporting dan
mulai menggunakan tripple line reposrting harus diwaspadai dengan ketat karena
CSR pada saat itu merupakan suatu trend yang mungkin saja diikuti perusahaan
hanya untuk meningkatkan daya saingnya. CSR dipandang hanyalah dalih perusahaan
untuk menunjukkan citra baik ke publik sehingga beberapa tindakan kotor dalam
perusahaan dapat tertutupi oleh kegiatan CSR. Namun, terlepas dari upaya
pencitraan melalui CSR, perusahaan memang seharusnya tetap giat
menyelenggarakan kegiatan CSR sebagai langkah pastinya dalam bertanggungjawab
atas keuntungan yang ia dapatkan dari lingkungan sosialnya. Pelaksanaan CSR
yang baik dan tulus dari perusahaan akan tentunya dapat menciptakan suatu
perkembangan yang terus-menerus bagi perusahaan dan tentunya tidak merugikan
pihak sosial di sekitar perusahaan tersebut.
Tanggung jawab sosial
perusahaan (Corporate Social Responsibility) adalah suatu tindakan atau konsep
yang dilakukan oleh perusahaan (sesuai kemampuan perusahaan tersebut) sebagai
bentuk tanggungjawab mereka terhadap sosial/lingkungan sekitar dimana
perusahaan itu berada. CSR atau TJSL sebagai suatu konsep, berkembang pesat sejak
1980 an hingga 1990 an sebagai reaksi dan suara keprihatinan dari
organisasi-organisasi masyarakat sipil dan jaringan tingkat global untuk
meningkatkan perilaku etis, fairness dan responsibilitas korporasi yang tidak
hanya terbatas pada korporasi, tetapi juga pada para stakeholder dan komunitas
atau masyarakat sekitar wilayah kerja dan operasinya.
Triple Bottom Line dalam Praktek
Meskipun Anda mungkin
atau mungkin tidak mempertimbangkan Triple Bottom Line yang tepat untuk bisnis
Anda, masuk akal untuk mengenali cara di mana tempat kerja berubah, dan
mempertimbangkan apakah Anda perlu menyesuaikan pendekatan Anda untuk bisnis
untuk mencerminkan ini.
Jika Anda memutuskan
untuk menjelajahi konsep lebih lanjut, mulai dengan meneliti apa yang
perusahaan lain lakukan untuk membuat perubahan positif dalam cara mereka
melakukan bisnis. Melihat langkah-langkah mereka telah diambil akan menghemat
waktu Anda brainstorming tentang cara-cara untuk meningkatkan bisnis Anda
sendiri. Beberapa contoh dari industri yang berbeda termasuk:
Sebuah deliverable
internasional dan perusahaan kemasan telah mengambil langkah-langkah drastis
untuk mengurangi jejak ekologi, dan saat ini memiliki sekitar 30% dari toko
dengan menggunakan energi terbarukan.
Sebuah bisnis es krim
telah menetapkan tujuan untuk mengurangi emisi karbon dioksida sebesar 10%
selama beberapa tahun mendatang. Hal ini juga telah mulai menyelidiki cara yang
lebih ramah lingkungan untuk paket es krim, dan berencana untuk mengurangi
limbah oleh setidaknya 1.000 ton.
Sebuah perusahaan
hanya membeli biji kopi dari petani yang menanam kopi dengan cara yang ramah
lingkungan, dan dibutuhkan sakit untuk memastikan bahwa semua pekerja yang
diperlakukan dengan adil, dan menerima upah keterampilan hidup bagi mereka.
Sebuah perusahaan
komputer berfokus banyak upaya masyarakat ke arah program pelatihan dan
pendidikan. Ini membantu anak-anak yang kurang mampu dengan memberikan mereka
akses ke teknologi, dan memiliki tujuan untuk mendaur ulang 60% limbah tahunan.
Dengan mengambil waktu
untuk mulai menggunakan pendekatan triple bottom line, Anda mungkin akan
terkejut betapa positif reaksi akan berasal dari kolega Anda dan pelanggan
Anda.
Kapan Menggunakan Triple Bottom Line
The Triple Bottom Line
pada dasarnya adalah sebuah sistem pelaporan. Dari dirinya sendiri, tidak
benar-benar meningkatkan dampak perusahaan pada orang atau lingkungan, lebih
dari tindakan memproduksi satu set akun manajemen akan mempengaruhi laba.
Namun, dapat digunakan
untuk mendorong perbaikan dalam cara organisasi dampak masyarakat dan
lingkungan dengan membantu manajer fokus pada apa yang harus mereka lakukan
untuk memperbaiki semua garis bawah, dan menjaga pekerjaan ini tinggi pada
agenda mereka. Dalam kasus ini, Triple Bottom Line digunakan sebagai jenis
Balanced Scorecard .
Seperti semua sistem
pengukuran, meskipun, biaya monitoring dan menghitung tiga garis bawah dapat
cukup besar. Dan Anda hanya bisa membenarkan biaya ini jika Anda dapat
melakukan beberapa kebaikan yang lebih besar sebagai akibat dari memiliki
angka. Apa lagi, Anda tentu tidak harus memiliki laporan Bottom Line Triple
tempat untuk memperlakukan orang dengan baik, atau teliti tentang pengaruh Anda
pada lingkungan. Dalam banyak kasus, uang yang dapat dihabiskan pada pemantauan
Triple Bottom Line yang lebih baik dapat digunakan pada orang-atau planet-ramah
inisiatif.
Tip:
Hal ini juga perlu
dipertimbangkan dalam konteks pemantauan dan mengelola kemajuan organisasi
menuju pencapaian yang Faktor Kritis Sukses .
Poin Penting :
The Triple Bottom Line
adalah cara mengukur dampak organisasi pada masyarakat dan lingkungan serta
keuangannya.
Beberapa perusahaan
menemukan bahwa menggunakan itu untuk memantau lebih dari sekedar garis
keuangan membantu mereka memperbaiki cara bahwa mereka memperlakukan
orang-orang baik di dalam dan di luar organisasi, dan mengurangi dampak negatif
terhadap lingkungan.
Sumber:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar